Pengertian, Fungsi dan Sejarah Perkembangan Pasar Modal di Indonesia

Artikel terkait : Pengertian, Fungsi dan Sejarah Perkembangan Pasar Modal di Indonesia

Pasar Modal di Indonesia 

Pengertian, Fungsi dan Sejarah Perkembangan Pasar Modal di Indonesia - Teman-teman mungkin sudah tidak asing dengan yang namanya Saham dan Obligasi, tentu saja peranan Pasar Modal dalam jual beli saham di Indonesia tidak luput dari Pasar Modal. Apa teman teman tahu apa itu pasar modal ?

Pengertian Pasar Modal

Pasar modal merupakan kegiatan yang berhubungan dengan penawaran umum dan perdagangan efek, perusahaan publik yang berkaitan dengan efek yang diterbitkannya, serta lembaga dan profesi yang berkaitan dengan efek - Wikipedia
Pasar Modal Menurut UUD NO 8 Tahun 1945
Pasar modal adalah kegiatan yang bersangkutan dengan penawaran umum dan perdagangan efek, perusahaan publik yang berkaitan dengan efek yang diterbitkannya, serta lembaga dan profesi yang berkaitan dengan efek. Sedangkan pengertian pasar modal secara umum adalah pasar yang mempertemukan pihak kelebihan/menawarkan dana (the lender) dan pihak yang memerlukan/membutuhkan dana (the borrower). 
Setelah kita mengerti tentang pengertian dari pasar modal tersendiri, ternyata pasar modal juga memiliki fungsi bagi Indonesia, apa saja fungsi pasar modal?

Peranan Pasar Modal

  1. Sebagai sarana pendanaan usaha atau sebagai sarana bagi perusahaan untuk mendapatkan dana dari masyarakat pemodal (investor). Dana yang diperoleh dari pasar modal dapat digunakan untuk pengembangan usaha, ekspansi, penambahan modal kerja dan lain - lain. 
  2. Pasar modal menjadi sarana bagi masyarakat untuk berinvestasi pada instrumen keuangan seperti saham, obligasi, reksa dana, dan lain - lain. Dengan demikian, masyarakat dapat menempatkan dana yang dimilikinya sesuai dengan karakteristik keuntungan dan risiko masing - masing instrumen.
  3.  Sarana dalam menciptakan tenaga kerja karna dapat mendorong dan berkembangnya industri pada penciptaan lapangan kerja baru 
  4. Sebagai sumber dana jangka panjang
  5. Sebagai alat untuk melakukan divestasi
  6. Menyediakan fasilitas bagi perusahaan-perusahaan dalam rangka meningkatkan kemampuan keuangan perusahaan dan ekspansi usaha.
  7.  Memberikan kesempatan bagi perusahaan untuk tumbuh dan berkembang sehingga menyumbang pertumbuhan perekonomian nasional.

Keberadaan pasar modal dalam perekonomian modern sudah tidak dapat terelakkan lagi bagi seluruh negara di dunia ini, tidak terkecuali di Indonesia, Tingginya permintaan akan barang dan jasa akibat dari semakin banyaknya umat manusia di dunia ini membuat perusahaan, baik yang bergerak di bidang jasa dan perdagangan, harus mampu memenuhi semua order yang diinginkan masyarakat dunia secara global. Indonesia, merupakan negara yang masuk dalam kategori negara berkembang, kebutuhan masyarakat akan barang dan jasa sangat tinggi. Hal ini dibuktikan dengan makin banyaknya perusahaan baru yang bermunculan di Indonesia, baik domestik maupun asing, karena pangsa pasar yang potensial ada di Indonesia.
Pasar modal dapat menjadi salah satu alternatif jitu dalam pengembangan pembangunan ekonomi di Indonesia. Keberadaannya yang semakin berkembang semakin membuktikan bahwa pasar modal semakin dibutuhkan sebagai bagian dari realisasi pemerintah dalam memenuhi kebutuhan masyarakat baik barang maupun jasa. Kebutuhan perusahaan dalam hal modal dapat terealisasikan manakala perusahaan tersebut berkecimpung di pasar modal.

Peranan Pasar Modal 

  1.   Lembaga intermediasi (lembaga perantara) keuangan selain bank.
  2. Memungkinkan para pemodal berpartisipasi pada kegiatan bisnis yang menguntungkan (investasi).
  3. Memungkinkan kegiatan bisnis mendapat dana dari pihak luar dalam rangka perluasan usaha (ekspansi).
  4. Memungkinkan kegiatan bisnis untuk memisahkan operasi bisnis dan ekonomi dari kegiatan keuangan.
  5. Memungkinkan para pemegang surat berharga memeroleh likuiditas dengan menjual surat berharga yang dimiliki kepada pihak lain.

Sejarah Pasar Modal di Indonesia

Era pasar modal di Indonesia dapat dibagi menjadi enam periode. Periode pertama adalah periode jaman belanda mulai tahun 1912yang merupakan tahun didirikannya pasar modal yang pertama. Periode kedua adalah periode orde lama yang dimulai pada tahun 1952. Periode ketiga adalah periode orde baru dengan diaktifkannya kembali pasar modal pada tahun 1977. Periode keempat dimulai tahun 1988 adalah periode bangunnya pasar modal dari tidur yang panjang. Periode kelima adalah periode otomatisasi pasar modal mulai tahun 1995. Periode keenam adalah periode krisis moneter mulai bulan Agustus 1997.

1. Periode Pertama (1912 – 1942) : Periode Zaman Belanda 

Dalam sejarah pasar modal Indonesia, kegiatan jual beli saham dan obligasi dimulai pada abad – 19. Menurut Effectengids yang dikeluarkan oleh Verreniging voor den Effectenhandel pada tahun 1939, jula beli efek telah berlangsung sejak 1880. Pada tanggal 14 Desember 1912, Amsedamse Effectenbueurs mendirikan cabang bursa efek di Batavia. Di tingkat Asia, bursa Batavia tersebut merupakan yang tertua ke-empat setelah Bombay, Hongkong dan Tokyo. 

Setelah perang dunia I, pasar modal di Surabaya mendapat giliran dibuka pada tanggal 1 Januari 1925 dan disusul di Semarang pada tanggal 1 Agustus 1925. Karena masih dalam zaman penjajahan Belanda dan pasar – pasar modal ini juga didirikan oelh Belanda, mayoritas saham-saham yang diperdagangkan disana juga merupakan saham-saham perusahaan Belanda dan afiliasinya yang tergabung dalam Dutch East Trading Agencies. Pasar-pasar modal ini beroperasi sampai kedatangan Jepang di Indonesia di tahun 1942.

2. Periode Kedua (1952-1960): Periode Orde Lama

Setelah Jepang meninggalkan Indonesia, pada tanggal 1 September 1951 dikeluarkan UU Darurat No 12 yang kemudian dijadikan UU No. 15/1952 tentang pasar modal. Juga melalui Kep MENKEU No. 28973/U.U. tanggal 1 November 1951, Bursa Efek Jakarta (BEJ) akhirnya dibuka kembali pada tanggal 3 Juni 1952. 
Tujuan dibukanya kembali bursa ini untuk menampung obligasi pemerintah yang sudah dikeluarkan pada tahun-tahun sebelumnya. Tujuan yang lain adalah untuk mencegah saham-saham perusahaan Belanda yang dulunya diperdagangkan di pasar modal di Jakarta lari ke luar negeri.

Kepengurusan bursa efek ini kemudian diserahkan ke Perserikatan Perdagangan Uang dan Efek-Efek (PPUE) yang terdiri dari 3 bank dengan Bank Indonesia sebagai anggota kehormatan. Bursa efek ini berkembang dengan cukup baik walaupun surat berharga yang diperdagangkan umumnya adalah obligasi oleh perusahaan Belanda dan Obligasi pemerintah Indonesia lewat Bank Pembangunan Indonesia. 

Penjualan obligasi semakin meningkat dengan dikeluarkannya obligasi pemerintah melalui Bank Industri Negara di tahun 1954, 1955, dan 1956. Karena adanya sengketa antara Pemerintah RI dengan Belanda mengenai Irian Barat, semua bisnis Belanda dinasionalkan melalui Undang-Undang Nasionalisasi No. 86 tahun 1958. Sengketa ini mengakibatkan larinya modal Belanda dari tanah Indonesia. Akibatnya mulai tahun 1960, sekuritas-sekuritas perusahaan Belanda sudah tidak diperdagangkan lagi di BEJ. Sejak itu aktivitas BEJ semakin menurun. 

3. Periode Ketiga (1977-1988): Periode Orde Baru 

Pada tanggal 10 Agustus 1977 berdasarkan Kepres RI No. 52 tahun 1976 pasar modal diaktifkan kembali dan Go Public nya beberapa perusahaan. Pada zaman orde baru inilah perkembangan pasar modal dapat dibagi menjadi 2, yaitu 1977 s/d 1987. Perkembangan pasar modal selama tahun 1977 s/d 1987 mengalami kelesuan meskipun pemerintah telah memberikan fasilitas kepada perusahaan-perusahaan yang memanfaatkan dana dari bursa efek. Fasilitas-fasilitas yang telah diberikan antara lain fasilitas perpajakan untuk merangsang masyarakat agar mau terjun dan aktif di pasar modal. Kurang menariknya pasar modal pada periode ini dari segi investor mungkin disebabkan oleh tidak dikenakannya pajak atas bunga deposito, sedang penerimaan deviden dikenakan pajak penghasilan sebesar 15%.

4. Periode Keempat (1988- Mei 1995) : Periode Bangun dari Tidur yang Panjang 

Setelah tahun 1988, selama 3 tahun saja, yaitu sampai tahun 1990, jumlah perusahaan yang terdaftar di BEJ meningkat sampai dengan 128. Sampai dengan akhir tahun 1994 jumlah perusahaan yang sudah IPO menjadi 225. Pada periode ini IPO menjadi peristiwa nasional dan banyak dikenal sebagai periode lonjakan IPO.

Pada tahun 1991, BEJ diswastakan dan sebagai konsekuensinya, BAPEPAM bukan lagi pelaksana pasar modal, tetapi lebih ke pengawas pelaksana pasar modal, sehingga BAPEPAM dari Badan Pelaksana Pasar Modal menjadi Badan Pengawas Pasar Modal. Peningkatan di pasar modal ini disebabkan oleh beberapa hal sebagai berikut :
  • Permintaan dari investor asing.
  • Pakto 88
  • Perubahan generasi
5. Periode Kelima (mulai Mei 1995) : Periode Otomatisasi 

Karena peningkatan kegiatan transaksi yang dirasakan sudah melebihi kapasitas manual, maka BEJ memutuskan untuk mengotomati-sasikan kegiatan transaksi di bursa. Jika sebelumnya di lantai bursa terlihat dua deret antrian ( sebuah untuk antrian dan yang lainnya untuk antrian jual) yang cukup panjang untuk masing-masing sekuritas dan semua kegiatan transaksi dicatat di papan tulis, maka setelah otomatisasi, sekarang yang terlihat di lantai bursa adalah jaringan komputer-komputer yang digunakan oleh broker. Untuk di BEJ digunakan JATS (Jakarta Automated Trading System) merupakan system otomatisasi menggunakan jaringan komputer yang digunakan oleh broker untuk perdagangan sekuritas di Bursa Efek Jakarta. Sementara di BES digunakan SMART (Surabaya Market information & Automated Remote Trading.

6. Periode Keenam (Mulai Agustus 1997 – September 1998): Krisis Moneter
Pada bulan Agustus 1997, krisis moneter melanda negara-negara Asia, termasuk Indonesia, Malaysia, Thailand, Korea Selatan dan Singapura. Krisis moneter yang terjadi ini dimulai dari penurunan nilai-nilai mata uang negara-negara Asia tersebut relatip terhadap dolar Amerika. Penurunan nilai mata uang ini disebabkan karena spekulasi dari pedagang-pedagang valas, kurang percayanya masyarakat terhadap nilai mata uang negaranya sendiri dan yang tidak kalah pentingnya adalah kurang kuatnya pondasi perekonomian.

Untuk mencegah permintaan dolar Amerika yang berlebihan yang mengakibatkakan nilainya meningkat dan menurunnya nilai Rupiah, Bank Indonesia menaikkan suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dengan harapan agar pemilik modal akan menanamkan modalnya di deposito untuk mengurangi permintaan terhadap dolar. Hal ini memberikan dampak yang negatif sehingga investor tidak lagi tertarik untuk menanamkan dananya di pasar modal, karena total return yang akan diperoleh lebih kecil dibandingkan dengan pendapatn dari bunga deposito. 

7. Periode Ketujuh (Mulai Juli 2000) : Tanpa Warkat 

Perdagangan dengan warkat sudah dianggap tidak efesien lagi. Belum lagi banyak warkat yang hilang sewaktu disimpan, atau banyak juga warkat yang dipalsukan. Secara administrative, penerbitan warkat juga akan menghambat proses penyelesaian transaksi. Oleh karena alasan-alasan tersebut, maka pada bulan Juli 2000, BEJ mulai menerapkan perdagangan-perdagangan tanpa warkat.

 8. Periode Kedelapan (Mulai Oktober 1998 – Desember 2002) : Penyembuhan 

Periode penyembuhan ini ditandai dengan naik turunnya IHSG berkisar 400 poin sampai dengan 700 poin. IHSG mencapai nilai tertinggi sejak Oktober 1998 pada tanggal 14 Juni 1999 dengan nilai 707,88 poin. 

9. Periode Kesembilan (Mulai Januari 2003 – Januari 2008) : Kebangkitan Kembali 

Tahun 2003 dimasuki dengan penuh optimisme. IHSG dibuka pada awal tahun 2 Januari 2003 dengan nilai 405,44. Mulai awal tahun ini IHSG mengalami peningkatan. IHSG pada 2 Januari 2003 tercatat pada posisi penutupan 409,125. pada tahun 2005, tanggal 3 Januari 2005, IHSG dibuka pada nilai 1.038,82 poin dan diakhir tahun pada tanggal 29 Desember 2005 IHSG ditutup pada nilai 1.162,63 poin. Pada tahun 2007 IHSG sempat menembus pasar modal sampai level 2.000. Kenaikan ini juga dipengaruhi atas penurunan suku bunga Fed sebesar 0,5% menjadi 4,75% dari nilai sebelumnya yaitu 5,25% yang menyebabkan pasar modal seluruh dunia kembali bergeliat. Akhir tahun 2007, IHSG ditutup dengan nilai masih cukup tinggi sebesar 2.745,826. IHSG sempat naik tertinggi pada nilai 2.838,476 pada tanggal 14 Januari 2008.

 10. Periode Kesepuluh (Mulai Oktober 2007): Bursa Efek Indonesia
Efektif mulai bulan November 2007,setelah diadakannya RUPSLB (Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa) yang diadakan pada 30 Oktober 2007. BEJ dan BES bergabung menjadi BEI (Bursa Efek Indonesia).
11. Periode Kesebelas ( Mulai akhir Januari 2008) : Krisis Global 

Pada akhir tahun 2008, pasar modal dikejutkan dengan pengungkapan kerugian Citybank sekitar 30% akibat dari kasus subprime Mortgage di Amerika Serikat. Isu yang sempat mencuat bulan Agustus tahun 2007 sebelumnya diperkirakan hanya mempunyai dampak jangka pendek dan tidak berkepanjangan, ternyata merupakan suatu bom waktu yang menunggu untuk meledak dan penyulutnya adalah pengungkapan kerugian dari beberapa bank dan lembaga keuangan lainnya. Akibat pengungkapan kerugian ini pasar modal Indonesia sempat terkoreksi turun dengan IHSG menjadi 2.294,524 pada tanggal 23 Januari 2008.

Ternyata dampak dari Isu yang berasal dari Amrika Serikat tersebut bukan hanya isapan jempol dan memberikan dampak yang cukup besar dengan diumumkannya kebangkrutan perusahaan keuangan terbesar di dunia Lehman Brothers. Akibatnya terjadi penurunan indeks diseluruh pasar modal dunia. Dan IHSG sempat mengalami kenaikan sesaat pada posisi 2.516,263 pada tanggal 23 Mei 2008 dan bersifat sebentar saja. Nilai IHSG sempat turun terendah pada tingkat 1.089,34 pada tanggal 28 Oktober 2008. memasuki tahun 2009, titik cerah tampaknya mulai muncul di pasar modal Indonesia. Pada tanggal 3 April 2009, nilai IHSG menembus titik psikologi 1.500, yaitu sebesar 1.511,335. pelaku pasar yakin bahwa nilai 1.500 merupakan nilai psikologis untuk IHSG. 

12. Periode Keduabelas (April 2009- Agustus 2011): Kejayaan 

Memasuki tahun 2009, titik cerah tampaknya mulai muncul di pasar modal Indonesia. Pada tanggal 3 April 2009, nilai IHSG menembus titik psikologi 1.500, yaitu sebesar 1.511,335. pelaku pasar yakin bahwa nilai 1.500 merupakan nilai psikologis untuk IHSG. 

13. Periode Ketigabelas (Agustus 2011 –Juni 2012): Stagnasi 

Seteelah nilai IHSG tertinggi tanggal 1 Agustus 2011 di periode sebelumnya, mulai 1 Agustus 2011 nilai IHSG berflaktuasi cenderung menurun. Tanggal 8 Agustus 2011, nilai indeks ini terkoreksi sebesar -71,377 poin menjadi 3.850,266 dan pada hari berikutnya pada tanggal 9 Agustus terkoreksi negative lagi sebesar 115,147 poin menjadi 3.725,119. Fluktuasi ini berakhir pada 4 Juni 2012 ditutup terendah sebesar 3.654,582.  

14. Periode Keempatbelas (Juni 2012 – Mei 2013): Kembali Berjaya 

Setelah mengalami hamper setahun stagnasi, Pasar Modal Indonesia mulai kembali Berjaya. Pada periode ini, nilai indeks sudah mulai kembali menembus 4.000 yaitu 4.4049,893 pada tanggal 3 Juni 2012. Nilai  IHSG tertinggi pada tanggal 29 Mei 2013 sebesar 5.200,69.

 

 



Artikel AkuCari.Info Lainnya :

Copyright © 2017 AkuCari.Info | Kumpulan Artikel, Makalah dan Info Pendidikan.